Monday, July 10, 2017

Bandung Lautan.....

Silakan titik- titik di atas diisi sendiri ya. Kalau saya lebih senang isiannya asmara, jadinya Bandung Lautan Asmara *ngarep*

Memang suasananya mendukung banget. Siang harinya mengunjungi Kawah Putih dengan yang memesona, ditambah dengan udara sejuk, dan suasana kota yang membangun mood jadi mellow- mellow gimana gitu *lebay, abaikan saja*

Libur Lebaran Ke Mana Nih?

Libur Lebaran tahun ini cukup panjang. Mulai dari 23 Juni hingga 29 Juni 2017. Untuk saya yang kampungnya di Medan, maka saya memilih mudik ke kampung orang alias liburan. Pertanyaannya mau jalan- jalan ke mana? Secara musim liburan pasti ramai di mana- mana. 

Setelah mencari sana- sini, akhirnya pilihan jatuh ke Jakarta. Berangkatnya bareng teman kuliah dulu. Jakarta, I’m coming (again) ^^

Enaknya, jalanan lancar dan bebas macet. Yang nggak enaknya, tempat wisata pada penuh dan banyak toko yang tutup. Bayangin deh antreannya pada mengular dimana- mana. Nah, kalau jalanan kota bebas macet, suasana jalan di kawasan wisata pada padat.

Selain Jakarta, kami juga singgah ke Bandung. Naik kereta api yang tiketnya sudah dipesan dari Medan. Aplikasi- aplikasi traveling sangat membantu. Semuanya terjadwal dengan baik. Yeeii ^^
Untuk postingannya, saya buat terpisah menurut tempat wisata yang kami kunjungi. Enjoy!

Sudah mejeng :


Area Jakarta menyusul ye ^^ 

GC’s pick : Airy Cidadap Bukit Indah 9 Bandung

Sebagai salah satu kota wisata di Indonesia, Bandung menyediakan akomodasi bagi para pengunjungnya.  Urusan menginap, tinggal pilih sesuai ukuran kantong. He he. Sebagai kaum backpacker, hotel berbintang belum jadi pilihan kami saat itu. Kami mencoba mencari penginapan melalui aplikasi Airy Rooms.

area receptionist

parkiran luas


Sunday, July 9, 2017

Bandung Selatan : Kawah Putih dan Sekitarnya

Pada liburan ke Bandung kali ini, kami memutuskan untuk mengunjungi Kawah Putih, salah satu lokasi wisata yang terkenal di Bandung Selatan. Beruntung sekali iparnya teman saya ikut, jadi dapat tebengan gratis. Thanks Bang Lulu *rejeki anak saleh*

Boarding pass KA. Sistemnya self check in langsung di counter yang tersedia

Untuk mengantisipasi jalanan macet, kami menumpang kereta api ke Bandung. Tiketnya beli jauh hari. Pas dilihat, masih ada tiket kereta dan masih banyak. Asyik. Langsung pesan PP dan dapat tambahan diskon lima ribu perak lagi per orang. Lumayan. Karena perjalanannya hanya sekitar tiga jam, kami membeli tiket ekonomi. Harga tiketnya Rp 90.000,- sekali jalan, menumpang KA Argo Parahyangan. Tiket perginya beli yang paling pagi dan tiket balik ke Jakartanya beli yang jam 7 malam.
naik kereta api..tut..tut..tut..

Sunday, June 4, 2017

Transportasi ke Genting yang Anti Ribet :)


Genting Highland merupakan salah satu primadona di negara Malaysia. Jika teman- teman berkunjung ke Kuala Lumpur, tidak ada salahnya singgah ke Genting dan menginap barang satu atau dua malam di sana. Kini, hadir Sky Avenue, sebuah mall yang berada tepat di sebelah First World Hotel, jalan kaki dari lobi langsung tembus ke Sky Avenue. Selain terkenal kasinonya, kuliner di Genting juga beragam sehingga para pengunjung bisa memanjakan lidah di sini. Mulai dari kuliner khas Timur hingga Barat ada di sini, dari yang ringan hingga yang mengenyangkan perut. Kalau favorit saya, churros dan hazelnut tart-nya.

SKy Avenue di Genting. 
Perjalanan ke Genting memakan waktu satu jam dari Kuala Lumpur. Akomodasi ke sana juga nggak ribet. Teman- teman bisa pilih beberapa opsi, tergantung nyamannya bagaimana. Saat saya dan Mama saya tiba di KLIA 2, ramainya bukan main. Long weekend, jadi harap maklum. Antrean cap paspor di imigrasi membludak. Belum lagi turis- turis yang main serobot dan potong. Duh. Satu jam lebih kami menunggu. Tiket bus ke Genting juga belum terbeli. >__< *curhat traveler*
Tiket dari KLIA2 menuju KL Sentral @RM 12.00
Setelah urusan cap- cap selesai, kami turun dan langsung membeli tiket bus ke KL Sentral. Harga tiketnya RM 12. Bus pun berangkat sesuai waktu yang telah ditentukan. Sayangnya, ketika sampai di KL Sentral, tiket bus ke Genting sold out. Gawat, padahal Papa saya sudah menunggu di sana. Lalu gimana dong? Tenang, banyak jalan menuju Roma Genting. Kami akhirnya bertolak ke Pudu Sentral (naik Rapid dari depan Nu Sentral) dan naik taksi dari sana karena counter Go Genting sudah tutup dengan cantiknya –  tiketnya sudah habis. Berikut ini jenis- jenis transportasi dan harganya menuju ke Genting :

Wednesday, May 24, 2017

Berburu Camilan di Supermarket di Kuala Lumpur

Camilan merupakan salah satu makanan yang wajib tersedia di rumah saya *sibuk bertanya kapan kurus*. Saat jalan- jalan ke Malaysia, salah satu kebiasaan kami, saya dan orang tua saya, adalah berbelanja ke supermarket setempat. Belanjaannya apa saja? Bisa berupa keperluan sehari- hari, seperti kopi instan, Milo, ataupun bumbu masak. Nah, kalau saya biasanya langsung bergerak menuju rak camilan. Tentu saja cari yang lebih murah dan nggak repot dibawa. Backpacker banget ya. Ha ha.
Tentunya nggak semua supermarket di Kuala Lumpur saya tahu. Postingan ini hanya berisi supermarket langganan saya. Jadi, kalau ada rekomendasi, boleh di-share juga yah ^^

1.     Jaya Grocer
Sumber : di sini
Supermarket yang satu ini memiliki beberapa gerai yang tersebar di Malaysia dan juga melayani pesan antar melalui website mereka di www.jayagrocer.com Bagi teman- teman yang mencari jajanan impor, di sini tempat yang cocok. Produk lokalnya ada juga kok. Selain penataannya yang rapi, harganya juga oke.
ngidam Koh-Kae tapi lagi nggak ke Thailand? Jaya aja ^^
Toko yang biasa saya datangi adalah toko yang berlokasi di KLIA2. Yap, strategis banget kan. Mudah dijangkau. Jaya Grocer terletak di Level 2. Dari arah ketibaan, jalan saja terus hingga agak ujung. Teman- teman akan melihat toko baju yang ada patung beruang gede, belok kiri  dan lurus, maka teman- teman akan melihat Jaya Grocer.
Sebagai tambahan informasi, di sebelah Jaya Grocer juga terdapat toko yang menjual kartu telepon setempat. Harganya juga oke di sana (setelah saya tanya ke beberapa counter).

Sunday, April 23, 2017

Futuristic Putrajaya

Liburan singkat memang paling seru kalau ada tempat baru yang bisa dikunjungi. Bagi masyarakat kota Medan, Malaysia menjadi salah satu destinasi wisata yang menjadi salah satu pilihan saat liburan tiba. Dengan jarak tempuh yang dekat, yaitu kurang lebih satu jam, Malaysia menjadi tujuan liburan singkat saya pada kali ini.

Saya termasuk traveler yang senang meng-explore hal- hal dan tempat- tempat baru. Karena selama ini hanya mendengar tentang Putrajaya dan saya belum pernah ke sini sebelumnya, maka kali ini saya akan main ke sana.
Foto dari PICC
Putrajaya merupakan pusat administrasi Malaysia (Wikipedia). Hampir semua sektor kementerian dapat kita jumpai di sini. Belakangan ini, banyak turis yang berkunjung ke Putrajaya, begitu kata driver yang membawa kami berkeliling. Selain bangunan dan gedung bergaya futuristis, Putrajaya juga memanjakan pengunjung dengan aneka kuliner yang menggoda yang bisa teman- teman temukan di Dataran Putra.

Transportasi

Teman- teman bisa memilih dua moda transportasi yang tersedia untuk berkunjung ke Putrajaya. Jika teman- teman lebih suka yang cepat, teman- teman bisa memilih KLIA Transit dengan ongkos yang lebih mahal (kisaran RM9.50-RM10). Waktu tempuhnya juga lebih cepat, yaitu sekitar 15-20 menit.
Bus ini yang kami tumpangi menuju Putrajaya
yang ini duluan berangkat. Full busnya.

Saturday, March 25, 2017

Aku dan Buku Untuk Indonesia


Salah satu hal yang saya tunggu saat tahun ajaran baru tiba – selain suasana baru – adalah buku baru. Di sekolah saya dulu, murid- murid yang membayar uang buku bacaan akan mendapatkan buku bacaan di hari pertama sekolah. Saya bukan salah satu di antara mereka. Ketika teman sebangku saya mendapatkan bukunya, saya meminjam kemudian mencatat judulnya untuk kemudian dibeli di luar. Agak repot, tapi lebih hemat. Selain itu, ada keseruan tersendiri saat hunting buku.

Saya bersyukur karena setiap tahun ajaran baru masih berkesempatan untuk memakai buku baru. Saya selalu menyukai aroma buku baru. Setelah tahun ajaran berakhir, bukunya disimpan untuk kemudian dipakai oleh adik saya. Dan beberapa juga ada yang dipakai oleh sepupu saya jika buku pada tahun ajaran berikutnya masih tidak diganti dan masih dalam kurikulum yang sama. Buku yang paling saya sukai waktu itu adalah buku Bahasa Indonesia karena banyak cerita di dalamnya.

Seiring berjalannya waktu, saya menemukan hobi baru, yaitu membaca novel. Sayangnya uang jajan yang waktu itu pas- pasan membuat saya tidak bisa membeli novel. Salah satu alternatifnya adalah meminjam dari kawan. Atau kalau tidak, menumpang baca di toko buku yang ada di mal dan menabung dulu lalu dibelikan novel saat ada diskonan.

Setelah tamat SMA, saya mulai kuliah sambil bekerja. Rasanya senang sekali karena sudah memiliki penghasilan sendiri. Hobi membaca saya mulai tersalurkan. Saya bisa membeli novel- novel kesukaan saya dan mulai mengoleksi novel hingga sekarang.

Sejak melihat deretan novel yang tertata rapi di rak, saya jadi ingin kepikiran untuk membuka perpustakaan. Hanya saja, impian untuk memiliki perpustakaan masih belum kesampaian. Semoga suatu hari nanti bisa ya ^^ Nah, saat mendengar program dari BCA yang bertemakan #BukuUntukIndonesia, saya sangat bersemangat. Kegiatan ini merupakan program dari Bakti BCA yang mengumpulkan paket buku dari masyarakat Indonesia untuk kemudian dibagikan kepada teman- teman kita yang membutuhkan. Paket buku dimulai dari Rp 100.000,- hingga Rp 350.000,-. Teman- teman yang berminat bisa berbagi melalui bukuuntukindonesia.bca.co.id (yang akan di-link ke blibli.com) ataupun datang langsung ke BCA cabang terdekat.


Seperti yang kita ketahui, Indonesia memiliki tingkat literasi yang rendah. Budaya membaca belum tertanam pada anak- anak Indonesia. Padahal dengan membaca, kita bisa memperoleh ilmu dan informasi yang luas sehingga bisa lebih mengenal dunia. Oleh karena itu, mari kita dorong dan bantu anak Indonesia untuk menjadi lebih baik dengan saling berbagi kepada mereka yang membutuhkan. Bersama kita ciptakan generasi muda yang lebih baik. Because sharing is caring and together we can create a better generation Y